Home Pendidikan Bantuan Siswa MI di Warungkiara Dipinta Balik Setengah, Wali Murid Geram

Bantuan Siswa MI di Warungkiara Dipinta Balik Setengah, Wali Murid Geram

205
0
SHARE
Bantuan Siswa MI di Warungkiara Dipinta Balik Setengah, Wali Murid Geram

Targetperistiwa.my.id

WARUNGKIARA, Dugaan praktik tak wajar mencuat di lingkungan sekolah dasar berbasis madrasah di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Bantuan uang untuk siswa yang seharusnya meringankan beban justru disebut-sebut diminta kembali oleh pihak sekolah. Ironisnya, jumlah yang diminta tak tanggung-tanggung: setengah dari total bantuan.

Seorang perwakilan wali murid dari MI Cigadog, Yayasan Sabilul Huda, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengungkapkan kronologi yang membuat publik mengernyitkan dahi.

Menurutnya, persoalan ini mencuat setelah salah satu anggota keluarga melihat status media sosial keponakannya yang mempertanyakan kebijakan pengembalian dana bantuan.

“Awalnya adik saya lihat status keponakan. Isinya mempertanyakan, masa uang yang sudah masuk rekening harus dikembalikan. Dari situ ditanya, ternyata benar, anak itu dapat bantuan Rp450 ribu, tapi diminta mengembalikan setengahnya,” katanya, kepada wartawan Rabu (1/7/3306).

Yang lebih janggal, nominal pengembalian disebut tidak konsisten. Dari setengah yang seharusnya Rp225 ribu, justru diminta Rp250 ribu. Bahkan, uang yang sudah dititipkan sebesar Rp250 ribu, disebut hanya diterima Rp200 ribu.

“Keponakan saya sudah nitip Rp250 ribu, tapi katanya yang diterima cuma Rp200 ribu. Ini makin membingungkan,” ungkapnya.

Tak hanya itu, wali murid mengaku tidak mendapat penjelasan jelas terkait alasan permintaan pengembalian dana tersebut. Ia juga tidak mengetahui secara pasti siapa yang menginstruksikan, apakah kepala sekolah atau guru.

“Tidak ada alasan jelas. Tiba-tiba diminta kembalikan saja. Ini yang jadi pertanyaan besar,” jelasnya.

Informasi yang dihimpun, bantuan tersebut diterima oleh empat siswa kelas enam, dari total 26 siswa di sekolah tersebut. Keempat siswa itu masing-masing mendapatkan Rp450 ribu, namun semuanya diminta mengembalikan sebagian dana tersebut.

“Yang kelas enam cuma empat orang, dan semuanya diminta kembalikan setengahnya. Kalau yang lain tidak tahu,” imbuhnya.

Praktik ini juga disebut bukan pertama kali terjadi. Dalam pengalaman sebelumnya, setiap ada bantuan, siswa kerap diminta memberikan sejumlah uang dengan nominal tertentu.

“Biasanya diminta sekitar Rp50 ribu. Tidak dibilang wajib, tapi seperti ada target. Jadi terkesan tidak benar-benar sukarela,” imbuhnya.

Pihak keluarga berharap ada klarifikasi dari sekolah dan praktik seperti ini tidak terjadi lagi. Mereka menegaskan, jika memang ada kebutuhan dari sekolah, seharusnya dilakukan secara transparan dan tanpa paksaan.

“Kalau memang butuh dana, silakan minta secara baik-baik dan sukarela. Jangan sampai bantuan untuk anak-anak malah diminta kembali tanpa dasar yang jelas,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah MI Cigadog belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut.

Rzl